Realitas Tri Parartha: Membangun Karakter Generasi Muda Hindu dalam Konsep Keagamaan Melalui Bantuan Pendidikan Penuh secara Eksklusif

Realitas Tri Parartha: Membangun Karakter Generasi Muda Hindu dalam Konsep Keagamaan Melalui Bantuan Pendidikan Penuh secara Eksklusif

Bhagawadgita IV.36

श्रेयान्द्रव्यमयाद्यज्ञाज्ज्ञानयज्ञः परन्तप
सर्वं कर्माखिलं पार्थ ज्ञाने परिसमाप्यते ॥३३॥

“api ced asi pāpebhyaḥ

sarvebhyaḥ pāpa-kṛt-tamaḥ

sarvaḿ jñāna-plavenaiva

vṛjinaḿ santariṣyasi”


“Diantara seluruh jenis yadnya, yadnya pengetahuanlah yg paling utama, karena yadnya pengetahuan bisa menyelamatkan diri dari lautan kelahiran dan kematian.”

Berdasarkan sloka Bhagawadgita IV.36 di atas, secara garis besar mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan salah satu indikator yang menjadi pilar penting dalam memengaruhi terbentuknya pola pikir dan karakter masyarakat. Melalui pendidikan yang baik, generasi muda memiliki kesempatan untuk berkembang secara pribadi, intelektual, dan spiritual. Hal ini membawa kita pada pentingnya memperhatikan pendidikan yang berbasis nilai-nilai keagamaan, yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan akademis, tetapi juga membentuk karakter yang kokoh dan bermoral.

SMA Negeri Bali Mandara, merupakan salah satu sekolah ternama di Bali yang didirikan oleh mantan Gubernur Bali yaitu Drs. I Made Mangku Pastika, M.M. pada tanggal 08 April tahun 2011 dalam rangka mengentaskan kemiskinan di Provinsi Bali melalui pendidikan. Sekolah ini memberikan akses kepada siswa yang status ekonomi keluarganya berada di kisaran menengah ke bawah. Berdasarkan salah satu konsep keagamaan Hindu, SMA Negeri Bali Mandara menjadi landasan yang penting dalam terealisasinya Tri Parartha di dalam kehidupan masyarakat.

Dalam hakikatnya, Agama Hindu mengajarkakn tentang konsep kesejahteraan yang disebut dengan ajaran Tri Parartha. Tri Parartha berasal dari bahasa Sansekerta yaitu dari kata “Tri” yang artinya tiga dan “Parartha” yang artinya kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan. Dalam hal ini Tri Parartha berarti tiga cara yang menyebabkan terwujudnya kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan hidup umat manusia. Tri Parartha memiliki 3 bagian yang mencakup asih (kasih sayang), punia (pengorbanan/pemberian yang tulus ikhlas), dan bakti (pengabdian), ketiga bagian tersebut menjadi landasan yang kuat dalam pembangunan SMA Negeri Bali Mandara.

Pemerintah, dalam upayanya untuk membangun sekolah ini, menunjukkan asih dengan memberikan kesempatan pendidikan yang berkualitas bagi peserta didik yang memiliki latar belakang ekonomi kurang mampu. Dengan memberikan akses yang adil kepada semua anak, pemerintah menunjukkan kasih sayang kepada generasi muda di Provinsi Bali yang kurang mampu secara ekonomi agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Secara punia, pemerintah melakukan alokasi dana dan sumber daya lainnya untuk memastikan bahwa sekolah ini memiliki fasilitas dan infrastruktur yang memadai dalam mendukung proses pembelajaran yang efektif. Dari hal tersebut mencerminkan bhakti atau pengabdian pemerintah dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Bali, khususnya dalam bidang pendidikan.



“Setiap satu butir nasi yang kalian makan saat bersekolah berasal dari setiap keringat rakyat Bali”

Drs. I Made Mangku Pastika, M.M.


Kalimat tersebut tercantum dalam pidatonya pak mangku Pastika dan mampu memberikan inspirasi yang mendalam bagi peserta didik, mendorong mereka untuk menghargai setiap peluang pendidikan yang diberikan dengan memperhatikan nilai-nilai luhur di dalamnya, salah satunya nilai-nilai pada ajaran Tri Parartha. Secara keseluruhan, para peserta didik SMA Negeri Bali Mandara sudah mencerminkan penerapan nilai-nilai ajaran Tri Parartha, yaitu sebagai berikut:


Asih

Bhagavadgita Sloka XII. 13

Adveṣṭā sarwa bhūtānāḿ,

Maitraḥkaruṇa eva ca,

Nirmano niraham kāraḥ,

Sama-duḥkha-sukhaḥkṣamī”

“Dia yang menyayangi segala ciptaan tuhan, bersahabat, dan memiliki kasih sayang, terlepas dari segala kesombongan, biasa dalam susah ataupun senang, serta selalu memaafkan.

   Peserta didik menunjukkan asih dengan saling membantu teman di asrama khususnya siswa kelas XII dan di sekolah. Mereka menyadari pentingnya kolaborasi dan dukungan antar sesama dalam mencapai kesuksesan. Selain itu, mereka juga memperlihatkan asih dengan membantu orang lain dan mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin masa depan yang berkomitmen untuk melayani masyarakat.

Punia

Sarasamusccaya Sloka 198

 

Ayacatah sidatasca sarvvopayairniyantavyah

Anrsamsyam paro dharmmo yacate yat pradiyate

“Sebaliknya, bantulah siapapun yang membutuhkan bantuan (termasuk kawan dan kerabat), khususnya mereka yang malu dan enggan membuka mulut untuk meminta bantuan.”

    Program Community Service menjadi wujud dari nilai punia yang diterapkan oleh peserta didik. Mereka secara kolektif menyumbangkan dana punia untuk membantu sesama yang mengalami musibah, menunjukkan solidaritas dan kepedulian terhadap anggota komunitas sekolah. Hal ini mencerminkan kesadaran mereka akan pentingnya berbagi rezeki sekecil apapun itu untuk kepentingan bersama.

Bhakti

        Dalam meraih visi sekolah untuk mencetak pemimpin masa depan, peserta didik berkomitmen untuk mewujudkan nilai bhakti. Mereka tidak hanya berambisi untuk menjadi pemimpin yang berkualitas, tetapi juga siap untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat. Karena sesungguhnya, pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang menghasilkan pengikut baru, tetapi pemimpin yang mampu melahirkan pemimpin baru untuk ikut berkontribusi kepada lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

        Menarik satu garis lurus dari penerapan di atas, tentunya ketiga bagian tri Parartha tersebut juga harus dilandaskan atas dasar kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan demikian, diharapkan bahwa peserta didik akan menjadi pribadi yang tidak hanya sukses secara materi, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat, mampu menjalankan tugas-tugas sesuai dengan ajaran agama dengan penuh ketulusan, serta menjadi penerus nilai-nilai luhur dalam masyarakat Hindu dan kontributor positif dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.




Created by:

I Kadek Krisna Adi Sueta_06_XII MIPA 2

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Perayaan “Siwalatri” Dalam Cerita Lubdaka Sebagai Bentuk Wujud Mewariskan Budaya Ke Generasi Muda Yang Berkarakter Menuju Pencerahan di SMAN Bali Mandara

"Peran Generasi Muda Hindu Berkarakter demi Kelestarian Kearifan Budaya Lokal"

Menggali Makna Tumpek Krulut Guna Membangkitkan Kesadaran Generasi Muda Bali akan Warisan Budaya dan Seni Tradisional