Memaknai Perayaan “Siwalatri” Dalam Cerita Lubdaka Sebagai Bentuk Wujud Mewariskan Budaya Ke Generasi Muda Yang Berkarakter Menuju Pencerahan di SMAN Bali Mandara
Memaknai Perayaan “Siwalatri” Dalam Cerita Lubdaka Sebagai Bentuk Wujud Mewariskan
Budaya Ke Generasi Muda Yang Berkarakter Menuju Pencerahan
di SMAN Bali Mandara
Agama Hindu di Bali memiliki berbagai
macam perayaan hari raya yang dianutnya seperti hari raya Galungan, Nyepi,
Tumpek, dan lainnya. Salah satu hari raya yang sakral di Agama Hindu adalah
hari raya
suci Siwaratri. Siwaratri berasal
dari 2 buah kata yaitu siwa” dan “ratri”, dalam
bahasa Sansekerta Siwa berarti baik hati, memberikan
harapan, membahagiakan dan suka memaafkan, Siwa juga adalah
sebuah nama kehormatan manifestasi Tuhan yaitu Dewa Siwa yang berfungsi
sebagai pelebur atau pemrelina. Sedangkan Ratri dalam
bahasa berarti malam atau kegelapan, sehingga jika diartikan Siwaratri berarti
pelebur kegelapan untuk menuju jalan terang. Jadi apa sesungguhnya makna dari
hari suci Siwaratri tersebut ?, maknanya adalah malam perenungan
suci, malam dimana kita bisa mengevaluasi dan instropeksi diri atas perbuatan
atau dosa-dosa selama ini dilakukan, sehingga pada
malam ini kita memohon kepada Sang Hyang Siwa yang juga
sedang melakukan payogan agar diberikan tuntunan agar bisa
keluar dari perbuatan dosa tersebut. Hari Suci Siwaratri jatuh setiap
setahun sekali berdasarkan kalender Isaka yaitu pada purwaning Tilem atau panglong
ping 14 sasih Kepitu (bulan ke tujuh) dalam
perhitungan kalender bali sebelum bulan mati (tilem), dalam kalender
Masehi jatuh setiap bulan Januari. Siwaratri memang memiliki makna
khusus bagi umat Hindu, karena pada saat tersebutlah Hyang Siwa beryoga, sehingga
menjadi hari baik bagi umat untuk melakukan brata semadi. Kemudian bagaimana konsep ajaran Siwa
tentang sadar diri (tutur) dan lupa diri (papa). Dalam Wrhaspatitattwa
34 dengan jelas menguraikan bahwa manusia dibelenggu oleh raga atau indriyanya
dinyatakan sebagai orang yang aturu (tidur) dan manusia yang senantiasa aturu
itulah disebut papa.”Atyanta kasyasih ning atma, sajna Bhatara, ndya teka
luputa ring papa, matangnyan lepase sangkeng papa menderitanya naraka”:
atma, ya Betapa Tuhanku.
Dalam melaksanakan brata Siwaratri ada tiga tingkatan yang bisa dilakukan oleh umat Hindu yang meliputi tingkatan Utama, Madhya dan Nista. Untuk tingkat Utama brata yang dilaksanakan adalah monobrata (pengendalian diri dalam berbicara), Upawasa (pengendalian diri dalam hal makanan) dan jagra (begadang, dalam kondisi sadar). Untuk pelaksanaan brata Siwa Ratri tingkatan Madhya cukup melakukan dua brata yakni upawasa dan jagra. Sedangkan untuk pelaksanaan tingkat nista yang wajib dilakukan saat Hari suci Siwaratri adalah jagra atau begadang. Jagra atau begadang dilakukan selama 36 jam. Lain halnya bagi yang melakukan monobrata dan upawasa berlaku 24 jam yang dilaksanakan saat purwani tilem kapitu mulai terbit matahari hingga besoknya di tilem kapitu saat matahari terbit kembali. Berikut penjelasan lebih detail terkait tingkatan-tingkatan brata siwalatri :
1) Nista, yaitu
pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan Jagra, artinya kesadaran itu
dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melek semalam
suntuk, sambil memusatkan segala aktifitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam
manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra
semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama,seperti kakawin dalam
berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana.
Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, “Nitya majapa maradina
sarira”. artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu
membersihkan badan. Sedangkan Dhyana dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, Nitya
Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa. Brata
Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam
suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan. Jagra dalam pengertian
yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek
semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakana simbolis untuk memacu tumbuhnya
budhi yang sebenarnya.
2) Madya adalah
pelaksanaan Brata Siwaratri dengan jagra dan upawasa. Upawasa
dalam kitab Agni Purana berarti “kembali suci”. Yang dimaksud
kembali suci ini adalah dilatihnya indriya melepaskan kenikmatan makanan.
Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu
tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada
kelezatan makanan.
3) Uttama, yaitu pelaksanaan
Brata Siwa Ratri dengan cara Jagra, Upawasa, dan Mona Brata,
artinya pelaksanaan dengan cara melek atau menyadarkan diri, menahankan
kenikmatan makanan dan berusaha mengurangi berbicara (Mona). Mona
artinya tanpa mengeluarkan ucapan-ucapan yang bertujuan melatih diri dalam hal
berbicara agar biasa berbicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar
ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih
pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.
Tata
cara pelaksanaan Siwaratri tertuang dalam pupuh 37 bait 1-9 dengan wirama
Jagaddhita kakawin Siwaratrikalpa. Sarana upacara Siwaratri adalah:
Sebuah Siwalingga, berbagai jenis bunga, yang terutama adalah daun maja
dan sulasih, bunga melati, bunga kenyeri, gambir, kecubung, widuri putih,
pudak, angsoka, nagasari, tangguli, tunjung, kenanga, teratai biru, teratai
merah, teratai putih, dan bunga lainnya. Harum-haruman seperti dupa, Dipa (pelita)
dan mentega encer. Sesajennya adalah bubur bercampur susu, bubur kacang hijau,
nasi beserta lauk-pauknya. Upacara dilakukan secara bertahap.
Di SMA Negeri Bali Mandara, perayaan Siwalatri yang dilaksanakan pada tanggal 9 Januari 2024 menjadi sebuah pengalaman spiritual yang mendalam dan bermakna. Beberapa siswa yang di asrama melaksanakan monobrata dan Upawasa dari jam 6 pagi hingga besoknya. Jagra Siwalatri dilaksanakan mulai pukul 18.00 sore hingga 06.00 pagi, melibatkan seluruh warga sekolah baik dari siswa kelas X, XI, dan XII, hingga guru pegawai yang berkesempatan hadir di aula besar hall basudewa. Perayaan dimulai dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan kegiatan dharma tula dan renungan. Dimulai dengan guru agama Hindu memberikan wawasan atau pengetahuan tentang hubungan siwalatri dengan Panca Sradha lan Panca Kramaning Sembah, sementara guru bahasa Bali menyampaikan cerita Lubdaka yang mengedepankan konsep karma baik dan buruk, serta hubungannya dengan sorga dan neraka. Renungan di SMA Negeri Bali Mandara mengarahkan peserta pada pemahaman mendalam tentang pentingnya menahan hawa nafsu dan melakukan introspeksi diri. Setelah persembahyangan tengah malam, peserta diminta untuk melakukan kegiatan mandiri terpusat hingga subuh, diakhiri dengan persembahyangan bersama di pelinggih pohon besar.
Harapannya, perayaan Siwalatri
di SMA Negeri Bali Mandara dapat menjadi dorongan bagi anak muda Hindu untuk
belajar tentang pentingnya introspeksi diri dan menahan hawa nafsu, sehingga
menjadi generasi muda yang bijak dalam memaknai setiap perayaan. Pesan yang
terkandung dalam perayaan Siwalatri di SMA Negeri Bali Mandara mengajak
generasi muda Hindu untuk memahami nilai-nilai spiritual, menahan hawa nafsu,
dan menjalani proses introspeksi diri. Melalui pemahaman tersebut, diharapkan
mereka dapat mewariskan budaya dan agama kepada generasi berikutnya. Membangun
karakter yang kuat, penuh rasa hormat, dan bertanggung jawab akan menjadi
pondasi untuk menciptakan generasi muda Hindu yang tidak hanya melestarikan
warisan budaya, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan
bangsa.


.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar