Menggali Makna Tumpek Krulut Guna Membangkitkan Kesadaran Generasi Muda Bali akan Warisan Budaya dan Seni Tradisional







Menggali Makna Tumpek Krulut Guna Membangkitkan Kesadaran Generasi Muda Bali akan Warisan Budaya dan Seni Tradisional

            Tumpek krulut berasal dari kata “Lulut” yang berarti tresna asih atau cinta kasih, senang dan gembira. Biasanya tumpek krulut dirayakan oleh umat Hindu sebagai hari cinta kasih antar sesama manusia. Tumpek krulut merupakan hari suci umat Hindu untuk memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam menciptakan manifestasi sebaga Dewa Iswara atau Kawiswara. Hari Tumpek Krulut jatuh pada hari Sabtu kliwon, wuku Krulut, yakni setiap 6 bulan atau setara dengan 210 hari kalender. Selain diartikan sebagai hari kasih sayang atau disamakan dengan hari valentine untuk umat Hindu, tumpek Krulut juga dimaknai dengan hari upacara gong atau gamelan yang digunakan sebagai pendamping upacara-upacara suci guna melantunkan alunan yang indah dan memiliki taksu karena saat tumpek Krulut pemujaan lebih diutamakan pada sabda (bunyi) atau tetangguran (gamelan atau musik)

Sesuai Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-Titi kehidupan masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dalam Bali era baru. Sebagai implementasi dari surat edaran tersebut, Gubernur Bali I Wayan Koster kemudian menerbitkan intruksi Gubernur Nomor 08 Tahun 2023 tentang perayaan rahina Tumpek Krulut, dengan pelaksanaan Jana Kerthi. Dalam Perayaan hari Tumpek Krulut ini diharapkan seluruh masyarakat Bali pada umumnya, untuk ikut merayakan upacara kasih sayang tersebut guna terwujudnya jalinan hubungan harmonis antar sesama manusia.

Dalam konsep sekala tumpek Krulut di Bali dilakukan dengan pagelaran pertunjukan seni. Seperti contohnya, Pemerintah Provinsi Bali pernah merayakan dengan menyelenggarakan pertunjukan seni dan grand final aransemen lagu Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Melainkan secara niskala, dilakukan dengan upacara penyucian gamelan dan alat musik. Dalam konteks seni, alat gamelan mengandung nyasa (simbol) yang bersemayam para dewa yakni Dewa Iswara (Dang), Dewa Siwa (Ding), Dewa Brahma (Dong). Selain itu, terdapat juga para dewi-dewi yang bersemayam di dalamnya, yakni Dewi Mahadewi, Dewi Umadewi, Dewi Saraswati, Dewi Sri, dan Dewi Gayatri.


(Gambar 1. Aransemen lagu Nangun Sat Kerthi Loka Bali)


(Gambar 2. upacara penyucian gamelan dan alat musik)

SMA Negeri Bali Mandara juga ikut serta dalam memeriahkan tumpek krulut dengan cara melakukan persembahyangan bersama dan saling merangkul sesama agar hubungan tetap terjalin dengan baik. Selain itu pula, dengan rasa saling menghargai yang tumbuh di masing-masing individu akan membuat suasana semakin hangat. Tradisi Tumpek Krulut menekankan pentingnya menjaga, merawat, dan menghormati warisan budaya dan seni tradisional, termasuk alat musik tradisional. Dalam konteks ini, generasi muda di Bali diajak untuk memahami, menghargai, dan melestarikan seni tradisional Bali. Beberapa makna di balik tradisi Tumpek Krulut yang dapat dijadikan pembelajaran bagi generasi muda di antaranya:

1. Pentingnya Warisan Budaya: Tumpek Krulut mengajarkan pentingnya menjaga dan memelihara warisan budaya Bali, termasuk seni musik tradisional. Generasi muda diajak untuk menghormati dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam seni tradisional ini.

2. Kesadaran Lingkungan: Tumpek Krulut juga menyoroti hubungan antara manusia dan alam. Dalam tradisi ini, alat musik dianggap sebagai wujud karya seni yang diberkati oleh Tuhan. Oleh karena itu, penghormatan terhadap alat musik tradisional juga mencakup kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan alam sekitar, dari mana bahan-bahan untuk membuat alat musik tersebut diperoleh.

3. Pendidikan Karakter: Melalui tradisi ini, generasi muda diajarkan tentang nilai-nilai seperti rasa hormat, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap budaya dan tradisi. Mereka memperoleh pemahaman tentang pentingnya menghormati orang lain, termasuk para seniman dan pembuat alat musik tradisional.

4. Pengembangan Keterampilan: Tumpek Krulut juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dan mengembangkan keterampilan dalam berbagai seni tradisional Bali, termasuk pembuatan dan pemeliharaan alat musik. Hal ini dapat menjadi wadah bagi mereka untuk mengekspresikan kreativitas mereka dan memperdalam pengetahuan tentang seni tradisional Bali.

(Gambar 3. Persembahan banten tumpek krulut)



(Gambar 4. Persembahyngan bersama)


(Gambar 5. Kebersamaan dan saling menghargai satu sama lain)

(Gambar 6. Belajar cara menggunakan gong atau gamelan dengan tulus iklas)


(Gambar 7. Saling merangkul antar sesama)

(Gambar 8. Menyayangi dan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak SD)

          Tumpek krulut tidak hanya menjadi momen untuk memuja dan memberkati alat-alat tradisional, tetapi juga sebagai momentum untuk mempererat tali perasudaraan. Semoga kedepannya kesadaran akan pentingnya hubungan yang baik dan kebersamaan ini tetap menyalakan bara dalam setiap langkah yang kita ambil. Dengan demikian, kita akan terus melangkah maju dan menjadikan masa lalu sebagai pembelajaran untuk menggapai jati diri yang lebih baik lagi. Dengan memahami tradisi Tumpek Krulut dan maknanya yang mendalam, generasi muda di Bali dapat mengembangkan rasa kebanggaan terhadap warisan budaya mereka dan terinspirasi untuk terlibat aktif dalam melestarikan seni tradisional Bali bagi masa depan yang lebih baik.

 

Created by :
Ketut Siti Amerta Sari_13_XII MIPA 2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Perayaan “Siwalatri” Dalam Cerita Lubdaka Sebagai Bentuk Wujud Mewariskan Budaya Ke Generasi Muda Yang Berkarakter Menuju Pencerahan di SMAN Bali Mandara

"Peran Generasi Muda Hindu Berkarakter demi Kelestarian Kearifan Budaya Lokal"