Persembahyangan Bersama Rahinan Tilem di Smanbara

Persembahyangan Bersama Rahinan Tilem di Smanbara 




Di Bali, persembahyangan merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu bentuk persembahyangan yang dilakukan secara bersama-sama adalah persembahyangan rahinan tilem di sekolah. Rahinan tilem adalah hari suci dalam kalender Bali yang jatuh pada setiap hari Tilem menurut penaggalan Bali. Pada hari rahinan tilem, para siswa dan guru di Smanbara  biasanya berkumpul untuk melaksanakan persembahyangan bersama. Mereka mempersiapkan bunga, dupa, dan sesajen lainnya sebagai tanda penghormatan kepada Sang Hyang Widhi, dewata-dewata, leluhur, dan roh-roh yang dipercayai hadir pada hari Tilem. 


Persembahyangan bersama di rahinan tilem di Smanbara memiliki makna yang mendalam. Selain sebagai wujud rasa syukur dan hormat kepada para leluhur dan dewata, persembahyangan tersebut juga bertujuan untuk memperkuat rasa solidaritas dan kebersamaan antar siswa dan guru. Melalui kegiatan ini, mereka mengajarkan untuk saling menghormati, bekerja sama, dan menjaga keharmonisan dalam lingkungan sekolah.


Persembahyangan di rahinan tilem di Smanbara umumnya dipimpin oleh seorang pemangku adat yang bertindak sebagai mediator antara manusia dengan alam gaib. Mereka membacakan mantra-mantra suci sambil memimpin seluruh jemaat dalam prosesi persembahyangan. Setelah selesai bersembahyang, biasanya dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan bagi semua pihak yang terlibat.


Persembahyangan bersama rahinan tilem di Smanbara juga menjadi salah satu cara untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya dan agama Hindu Bali di tengah arus globalisasi yang semakin cepat. Melalui kegiatan ini, generasi muda diajarkan untuk tetap menghargai warisan budaya leluhur serta memperkokoh identitas sebagai orang Bali.


Dengan demikian, persembahyangan bersama rahinan tilem di sekolah bukan hanya sekedar ritual keagamaan semata, tetapi juga merupakan sarana untuk memupuk nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan kecintaan terhadap budaya lokal.

Created by :
Ni Wayan Sulatri_25_XII MIPA 2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Perayaan “Siwalatri” Dalam Cerita Lubdaka Sebagai Bentuk Wujud Mewariskan Budaya Ke Generasi Muda Yang Berkarakter Menuju Pencerahan di SMAN Bali Mandara

"Peran Generasi Muda Hindu Berkarakter demi Kelestarian Kearifan Budaya Lokal"

Menggali Makna Tumpek Krulut Guna Membangkitkan Kesadaran Generasi Muda Bali akan Warisan Budaya dan Seni Tradisional