Hari Raya Saraswati

 

HARI RAYA SARASWATI



Hari Raya Saraswati dalam ajaran Hindu mengandung makna, turunnya ilmu pengetahuan sekaligus sebagai penghormatan terhadap Dewi Pengetahuan yaitu Dewi Saraswati. Diperingati setiap enam bulan sekali (210 hari) atau pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung yang jatuh pada Sabtu, Hari Saraswati menjadi hari penting bagi Umat Hindu khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan. Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan. Beliau disimbolkan sebagai seorang dewi yang duduk diatas teratai dengan berwahanakan se-ekor angsa (Hamsa) atau seekor merak, berlengan empat dengan membawa sitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kiri membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan gitar membawsitar/veena dan ganatri di kedua tangan kanan, tangan kin membawa pustaka/kitab dan tangan kiri satunya ikut memainkan veena atau bermudra memberkahi.

 

Makna dan simbol-simbol dewi saraswati

  • Berkulit putih, bermakna: sebagai dasar ilmu pengetahuan (vidya) yang putih, bersih dan suci.
  • Kitab/pustaka ditangan kiri, bermakna: Semua bentuk ilmu dan sains yang bersifat se-kular. Tetapi walaupun vidya (ilmu pengetahuan spiritual) dapat mengarahkan kita ke moksha, namun avidya (ilmu pengetahuan sekular jangan diabaikan dulu). Seperti yang dijelaskan Isavasya-Upanishad: “Kita melampaui kelaparan dan da-haga melalui avidya, kemudian baru melalui vidya meniti dan mencapai moksha.”
  •  Veena, bermakna : seni, musik, budaya dan suara AUMJuga merupakan simbol keharmonisan pikiran, budhi, kehidupan dengan alam lingkungan.
  • Akshamala/ganatri/tasbih di tangan kanan, bermakna: Ilmu pengetahuan spiritual itu lebih berarti daripada berbagai sains yang bersifat secular (ditangan kiri). Akan tetapi bagaimanapun pentingnya kitab-kitab dan ajaran berbagai ilmu pengetahuan, namun tanpa penghayatan dan bakti yang tulus, maka semua ajaran ini akan mubazir atau sia-sia.
  • Wajah cantik jelita dan kemerah-merahan, bermakna: Simbol kebodohan dan kemewahan duniawi yang sangat memukau namun menye-satkan (avidya).
  • Angsa (Hamsa), melambangkan: Bisa menyaring air dan memisahkan mana kotoran dan mana yang bisa dimakan, mana yang baik mana yang buruk, walaupun berada di dalam air yang kotor dan keruh maupun Lumpur, (simbol vidya).
  • Merak , bermakna: berbulu indah, cantik dan cemerlang biarpun habitatnya di hutan. Dan ber-sama dengan angsa bermakna sebagai wahana (alat, perangkat, penyampai pesan-pesan-Nya).
  • Bunga Teratai/Lotus, bermakna: bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan bunga yang in-dah walaupun hidupnya di atas air yang kotor.


Alat dan Bahan Dalam Pembuatan  Banten Saraswati

Banten Saraswati yang lumrah dipergunakan pada Hari Suci Saraswati adalah dalam bentuk tamas yang kecil mungil dan sederhana.

Banten ini biasanya dihaturkan pada lontar-lontar yang ditaruh dalam sebuah 'Dulang'. Begitu pula buku-buku bacaan pada hari itu dibantenin atau diupacarai. Tujuan daripada penghormatan ini adalah untuk rnenrohon anugrah-Nya dalam pembawaannya sebagai seorang Dewi yang amat cantik yaitu Dewi Saraswati. Yang menuntun umat-Nya dari kegelapan menuju pada kecemerlangan.



Bahan-bahan Banten Saraswati terdiri dari:

- Tamas

- Daun Beringin

- Jajan Cacalan yang berbentuk Cecak

- Ituk-ituk

- Bubur Sumsum

- Daun Cemara

- Pisang, Tebu, Tape Gede

- Jajan Uli, Begina

- Rerasmen Wadah Celemik

- Sampian Sesayut

- Penyeneng Cenik

Cara menatanya:

·   Sibakan tugelan Tamas diisi Pisang 2 bulih dan tebu . Di tengah-tengahnya diisi tape gede. Disusuni jajan Bagina dan jajan Uli.

·   Di teben diisi dengan Cemara, ituk-ituk diisi daun Beringin yang salah satu daunnya sudah diisi bubur sumsum. Kemudian paling atas adalah jajan Cacalan Saraswati yang berbentuk Cecak. Ditemani pula dengan Segehan Kober.

·  Setelah itu ada pula Rerasmen, kemudian setelah semuanya lengkap, diisi Penyeneng dan Sampian Sesayut ukuran kecil.

 

Doa Saraswati:

Om syam siwam dewam mrtistam swaha,

Om nirwigna nama swaha, suka sidyam nama swaha.

Om Kara krti prataman, akasa widyah saranam, suka aksara winastam, prasama pada winatam.

Om sri sri sri Sarasati purneng purnaning prani ya nama swaha.

Dokumentasi



(Gambar 1. Banten Saraswati)



(Gambar 2. Pelaksaanan upacara pada saat Saraswati)

 

Created by :
Ni Wayan Murtini_24_XII MIPA 2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memaknai Perayaan “Siwalatri” Dalam Cerita Lubdaka Sebagai Bentuk Wujud Mewariskan Budaya Ke Generasi Muda Yang Berkarakter Menuju Pencerahan di SMAN Bali Mandara

"Peran Generasi Muda Hindu Berkarakter demi Kelestarian Kearifan Budaya Lokal"

Menggali Makna Tumpek Krulut Guna Membangkitkan Kesadaran Generasi Muda Bali akan Warisan Budaya dan Seni Tradisional