Eksistensi Patung Ganesha yang Diyakini sebagai Simbol Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan
Eksistensi Patung Ganesha yang Diyakini sebagai Simbol Ilmu Pengetahuan dan
Kebijaksanaan
Manusia sebagai makhluk yang memiliki kepekaan atas nilai budaya, secara langsung mendorong manusia itu sendiri untuk melakukan berbagai bentuk upaya penerimaan, terhadap segala hal yang berkaitan dengan produk-produk kebudayaan baik yang terwujud secara fisik maupun yang masih terealisasi dalam satuan tatanan nilai kebudayaan itu sendiri. Kepercayaan merupakan salah satu unsur budaya yang sangat penting dalam kehidupan manusia, demikian pentingnya justru di belahan bumi manapun kepercayaan merupakan bagian dari suprastruktur kehidupan masyarakat yang mumpuni.
Berangkat dari sedikit penjelasan di atas maka untuk menemukan salah satu kunci untuk memahami kebudayaan awal di Indonesia secara keseluruhan adalah memahami kepercayaan awal yang menjadi pedoman hidup anggota masyarakatnya, yang secara umum walaupun berbeda dalam konten bagaimana mengaplikasikan kepercayaan tersebut baik dalam cara ritual (penyembahan) maupun aplikasi sehari-hari pada masyarakat yang berbeda. Hal ini menandakan adanya suatu kepercayaan yang oleh ahli yang dinamakan kepercayaan animisme - dinamisme.
Kepercayaan animisme (dari bahasa latin anima atau “roh”) adalah kepercayaan kepada mahluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia ‘primitif’. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda di bumi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pohon, atau batu besar) mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari roh jahat yang ada dalam kehidupan seharian mereka.
Sedangkan dinamisme (dalam kaitan agama dan kepercayaan) adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar. Arwah nenek moyang itu sering di mintai tolong untuk urusan mereka. Caranya adalah dengan memasukkan arwah-arwah mereka ke dalam benda-benda pusaka seperti batu hitam atau batu merah delima dan lain sebagainya. Serta ada juga yang menyebutkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan yang mempercayai terhadap kekuatan yang abstrak yang berdiam pada suatu benda.
Dalam konsep kepercayaan agama, Hindu bukanlah agama yang kaku, karena sifatnya fleksibel. Pemujaan terhadap Tuhan dalam Hindu tak harus seragam, tak harus menggunakan mantra-mantra yang berbahasa Sansekerta, namun juga dengan bahasa Bali, Jawa, atau bahasa lainnya yang penting niat dan ketulusan. Lalu bagaimana dengan Hindu khususnya di Bali yang dianggap sebagai pemuja patung atau batu? Agama Hindu sangat menghargai seni, bahkan semua ritual dalam agama Hindu di Bali adalah seni dan akan sangat mustahil sebuah ritual tersebut terlaksana tanpa adanya seni.
Patung adalah hasil imajinasi dari pikiran manusia dan lahir karena kekayaan, ketajaman, dan kejelian imajinasi. Selain itu untuk memahami sesuatu yang abstrak perlu dikonkritkan. Tuhan adalah sesuatu yang abstrak yang tak bisa digambarkan oleh siapapun di dunia ini. Dengan keterbatasan manusia sehingga dengan seni dibuatlah simbol atau media untuk memusatkan diri pada Tuhan salah satunya berupa patung. Akan tetapi Hindu tidaklah memuja media berupa patung yang dibuat tersebut, melainkan hanya sebagai media untuk meyakini keberadaan Tuhan dan dalam melakukan pemujaan umat Hindu tidak memusatkan diri pada patung melainkan pada Tuhan.
Pemujaan terhadap patung atau Arca merupakan perwujudan Tuhan dalam Hindu yang dituangkan dalam aspek Saguna Brahman (Tuhan yang berpribadi). Keberadaan Arca dan patung itu sendiri akan lebih banyak mengambil wujud atau bentuk tertentu sesuai dengan mitologi dari Tuhan (Ida Shang Hyang Widhi Wasa), baik sebagai sumber pengetahuan, kesejahteraan dan kemakmuran termasuk fungsi Tuhan sebagai penghalang segala halangan (Awigna Gna) yang dalam hal ini disimbolkan dengan Patung Dewa Ganesha.
Ganesha berkedudukan sebagai manifestasi (Ida Sang Hyang Widhi) sebagai Dewa yang memiliki kekuatan untuk menumpas segala bentuk halang rintangan. Secara umum Ganesha mengambil perwujudan manusia berkepala gajah, memiliki empat tangan begitu juga dilengkapi dengan beberapa kelengkapan atribut. Ganesha merupakan salah satu simbolisme Hindu yang dipandang memiliki kesucian dan berperan untuk menumpas segala halangan yang ditemui manusia. Sehingga tak jarang simbol Ganesha ini sering terlihat pada lembaga-lembaga seperti lembaga untuk menimba ilmu pengetahuan.
Dibalik bentuk fisik Patung Ganesha dengan tubuh yang gemuk dan kepala gajah, ada beberapa filosofi yang bisa kita petik dari bentuk Dewa Ganesha, yaitu:
Kepala besar, melambangkan kita sebagai manusia seharusnya lebih banyak menggunakan akal daripada fisik dalam memecahkan masalah.
Mata yang sipit berarti konsentrasi. Pikiran harus diarahkan ke hal-hal positif untuk memperbaiki daya nalar dan pengetahuan.
Dua telinga besar yang mengajarkan supaya kita lebih banyak mendengarkan orang lain, karena kita selalu mendengar tetapi jarang sekali kita mendengarkan orang lain dengan baik: “Dengarkan ucapan-ucapan yang membersihkan jiwa dan seraplah pengetahuan dengan telingamu.”
Memiliki mulut yang kecil dan hampir tidak kelihatan karena tertutup belalainya. Mulut yang kecil itu mengajarkan agar kita mengontrol gerak mulut dan lidah. Maksudnya adalah bahwa kita harus mengurangi pembicaraan yang kurang penting.
Satu gading berarti kesatuan. Simbol ini menyarankan manusia hendaknya bersatu untuk satu tujuan yang mulia.
Sementara belalai yang menjulur melambangkan efisiensi dan adaptasi yang tinggi.
Perut buncit melambangkan keseimbangan dalam menerima baik-buruknya gejolak dunia. Dunia diliputi oleh sesuatu yang berpasangan, yakni pasangan dua hal yang bertolak belakang. Ada senang, ada pula sedih. Ada siang, ada pula malam. Ada wajah suram kesedihan di balik tawa riang kita. Dan sebaliknya, ada keriangan dan semangat dibalik kesedihan kita. Itulah hidup, dan kita harus menyadarinya.
Tangan kanan depan bersikap abhaya hasta (memberi berkat) kepada pemuja, umat manusia dalam usaha pencapaian Tuhan.
Tangan kanan belakang memegang kapak, dengan kapak itu beliau memotong keterikatan para bhaktanya dari keterikatan duniawi.
Tangan kiri belakang memegang tali, dengan tali beliau menarik mereka untuk semakin dekat dengan kebenaran, kebajikan, dan cinta kasih serta intelektualitas, kemudian pada akhirnya beliau mengikatnya untuk mencapai tujuan umat tertinggi.
Tangan kiri depan membawa modaka (manisan) dipegang oleh Dewa Ganesha perlambang pahala dari kebahagiaan yang beliau berikan kepada pemuja-Nya.
Dia memiliki seekor tikus kecil yang menjadi sahabat sekaligus kendaraannya. Tikus putih yang merupakan penjelmaan seorang yang sombong. Karena kesombongannya itu dia pun dikutuk menjadi seekor tikus dan harus melayani atau menemani Ganesha kemanapun. Tikus, seperti sifat hewan aslinya, adalah hewan yang penuh nafsu menggigit. Hewan pengerat ini memakan apa saja untuk memenuhi hasrat perutnya. Demikianlah tikus dijadikan lambang nafsu dalam figur Ganesha. Kita harus bisa menjadikan nafsu sebagai kendaraan sehingga kita dapat mengendalikan nafsu.
Created by :
Pasek Putu Puja Suarndewi _26_XII MIPA 2
Komentar
Posting Komentar